Kementerian Pertanian Terus Mengenjot Alsintan Untuk Peningkatan Produktivitas Usahatani

Ilustrasi Gambar Penyuluh saat mendampingi penggunaan TR-2 (*Foto Laporan WA)

Manado,10 Januari 2019---Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Sulawesi Utara, sebagai sekretariat Optimalisasi Alat dan Mesin Pertanian (Opsin) di Sulawesi Utara. Terus melakukan tugasnya mengidentifikasi dan melaporkan penggunaan Alat dan Mesin Pertanian (Alsin) yang ada di wilayah kerjanya.

Menurut Dr.Ir.Yusuf,MP., kegiatan identifikasi dilakukan dengan membuat group media identifikasi dengan teman-teman pelaksana dilapangan, yaitu dengan petugas dan operator melalui fasilitas whats Apps (WA). Namun demikian, beliau juga menugaskan para koordinator lapangan seperti Liaison Officer (LO) yang ada di kabupaten kota se Sulawesi Utara, untuk turun lapang melihat dan melaporkan kinerja Alsin di wilayah Kerjanya.

Selain itu, tim kerja yang ada di kabupaten kota juga, selain mengidentivikasi, juga diharapkan terus mendorong dan menggerakkan petani agar memanfaatkan lahan-lahan yang ada untuk dimanfaatkan dengan tanaman-tanaman pertanian. Fasilitas Alsintan yang diberikan pemerintah untuk memudahkan petani dalam melakukan kegiatan usahatani.

Yusuf juga berharap, agar dengan modernisasi pertanian melalui alat mesin pertanian, diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat para muda tani untuk kembali mengairahkan pertanian Indonesia.

Masih Menurut Yusuf, Alsin yang ada dimasyarakat sudah banyak digelontorkan pemerintah dan harus dilaporkan penggunaannya seperti: Hand Traktor Roda Dua (TR2), Traktor Roda 4 (TR-4), Rice Transplanter, Coper, Cultivator, Hand Spreyer, Alat Tanam Jagung, Pompa Air, dan lainnya. Itu semua fasilitas diberikan negara untuk menggiatkan pertanian.

Tim kerja yang diturunkan, Ir.Derek Polakitan, Supratman Sirih,STP dan Yandri Assa, SST., melakukan identivikasi ulang Alsin bantuan pemerintah sejak 2014 sampai tahun 2018. Di Bolmong Raya, seperti dilaporkan: Kab. Bolmong: 1. Excavator 2 unit, 2. Handtraktot 60 unit, 3. Traktor R4 34 unit, 4.  Pompa air 205 unit, 5. Cultivator 20 unit, 6. Alat tanam jagung 40, 7. Alat tanam padi 7 unit, 8. Hand spreyer 124 unit, 9. Perontok padi 10 unit, 10. Power treser 11 unit dan 11. Seeding tray 200 unit.

Kabupaten Bolmut: 1. TR-2 40 Unit, 2. TR-4 11 unit, 3. Excavator 1 unit, 4. Rota tanam 2 unit, 5. Rice transplanter 5 unit, 6. Automatic Hand Spreyer 98 unit, 7. Alat tanam jagung 20, 8. Hand Spreyer 50 unit, 9. Pompa air 40 unit, 10. Power treser 20 unit, 11. Dryer padi 6 unit.

Menurut Yusuf, kegiatan identivikasi dan pelaporan terus dilakukan untuk terus mendorong optimalisasi Alat dan Mesin Pertanian yang telah diberikan ke masyarakat. Karena sesuai dengan petunjuk, bila Alsin tidak di optimalkan berpotensi di relokasi, imbuh Yusuf. Untuk itu beliau mendorong para koordinator lapangan dan LO, agar terus berkordinasi dengan pihak terkait di lapangan. (*Artur).

Padi Inpari-24 Balitbangtan Pertama Dikembangkan di Bolmut

Ilustrasi Foto. Pendampingan Tanam Inpari 24 di Binjeita.

Binjeita Bolmut,19 Desember 2018---Setelah panen Inpari 31, Ciherang dan Inpari 30 pada periode satu, pada periode tanam ke dua kegiatan Peningkatan Indeks Pertanian (IP) Padi, Petani di Binjeita untuk mengejar waktu tanam tepat, langsung menyiapkan bibit Inpari 24 beras merah untuk ditanam.

Ikuti Juga : 1). Republika 2). Gatra 3).Swadaya Pertanian 

Menurut Dr.Freddy Lala,SP.MSi., selaku penanggung jawab kegiatan ini, bahwa 2 kegiatan penting seperti  Survei Sumber Daya Air dan Pola Tanam digabung dalam kegiatn IP. Kegiatan ini sangat bertalian, dengan produksi lahan sawah tadah hujan. Memang, penentuan lokasi kegiatan IP di Binjeita, sudah melalui tahapan Calon Petani Calon Lahan (CPCL). Dan memang di daerah ini hanya sekali panen dalam setahun.

Ikuti Info Terkait: 1). Rilis 2). Gatra 3).Pilar Pertanian 4).Swadaya

Dr.Bidang Hama ini melanjutkan, bahwa dalam rangka mendukung gerakan tanam dan terus menanam padi jagung dan kedelai (Pajale) di salah satu kabupaten beras di Sulawesi Utara ini, maka petani pelaksana kegiatan IP di Binjeita kita gerakkan lagi untuk langsung menyiapkan lahan untuk menanam. Kegiatan ini pada kawasan 24 ha lahan kita demplotkan di luasan 3 ha. dengan harapan petani sekitar akan mengikuti penerapan teknologi dari 3 ha ke 25 ha.

Lanjut Lala, bahwa sesuai tujuan dari kegiatan peningkatan IP, dimana petani yang biasanya hanya menanam sekali dalam setahun, kita dorong dan gerakkan petani agar dengan teknologi Balitbangtan, mereka dapat menanam lebih sekali dalam setahun. Hasil kegiatan periode lalu, walau dengan cekaman kekeringan petani dalam kegiatan ini dapat panen sampai 5 ton per ha. dipihak lain petani yang tidak menerapkan teknologi  pompanisasi dan aplikasi bio silica, mereka hanya panen 20 persen dari luas ditanami.

Teknologi yang diintroduksikan dalam kegiatan ini adalah teknologi hasil Balitbangtan, mulai dari identivikasi sumberdaya air, penggunaan varietas unggul baru (VUB), pengendalian hama terpadu, pemupukan berimbang, aplikasi bio silica, dan pendampingan bersama penyuluh BPP dan BPTP serta Peneliti, tutup Lala.

Ditempat yang sama, Arnold C. Turang,SP., selaku koordinator lapangan perbanyakan benih ES padi sawah, menambahkan bahwa, BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara pada tahun ini memproduksi benih padi Inpari 24 sebanyak 12 ton dan Inpari 31 sebanyak 4 ton. Dan itu sudah siap dan sedang disalurkan pada petani untuk mendukung ketersediaan benih unggul baru di daerah. Termasuk yang akan ditanam petani saat ini.

Sebagai manager produksi benih padi di UPBS BPTP Balitbangtan Sulut, Turang menyambut baik proaktif kelompok tani Daya Karya di Binjeita, yang sudah siap menanam varietas Inpari 24. Di tempat yang sama, Arnold C. Turang,SP. Penyuluh Pertanian dan Sonny Pangemanan,AMd. Teknini Litkayasa di BPTP Balitbangtan Sulut, langsung turun lapangan dan memberikan contoh aplikasi tanam Jajar Legowo 2:1 pada petani di Binjeita.

Pak Mul dan ketua kelompok daya Karya, menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini. Dengan kegiatan seperti ini, petani didampingi langsung oleh sumber teknologi. Untuk itu harap Mul, semoga kedepan apa yang telah dilakukan pihak BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara, dapat diteruskan oleh penyuluh di daerah, imbuhnya. (*artur)

Temu Lapang Bangun Sinergitas Pelaku Utama Pelaku Antara dan BPTP Balitbangtan Sulut

AgroInov. Gambar Kunjungan Lapangan Peserta Temu Lapang di Sidodadi. (*artur)

Sidodadi Bolmut, 12 Desember 2018.---Temu lapang dengan petani sebagai salah satu metode pemberdayaan petani melalui pertemuan antara petani, peneliti, penyuluh, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), dan Anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), untuk saling tukar menukar informasi terkait inovasi teknologi yang diterapkan petani di Desa Sidodadi Kecamatan Sangkup Bolaang Mongondow Utara (Bolmut).

Kepala BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara, Dr.Ir.Yusuf,MP. menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini. Memang sejak tahun 2017 sampai saat ini, BPTP Baitbangtan melaksanakan kegiatan Kajian Sistim Usahatani Berbasis Kakao Klon Unggul dengan Ternak Kambing. Inovasi yang telah dihilirkan ini harus diderashilirkan lagi kepada para pelaku utama (Petani) dan Pelaku antara (Penyuluh), sehingga keberhasilan ini termanfaatkan juga oleh teman-teman petani lainnya.

Lebih lanjut Yusuf menjelaskan, dinamika perjalanan kegiatan selama dua tahun, tentu banyak komponen teknologi yang sudah dan diterapkan pelaku utama, sehingga perlu dibangun kerjasama agar arus informasi teknologi dari sumber teknologi dan pengguna teknologi terus dibangun dan diperbaiki bersama.

Penetapan kegiatan di Desa ini, tentunya melalui prosedur survei awal atau CPCL (Calon Petani Calon Lahan). Salah satu pertimbangan potensi desa ini adalah memiliki ternak kambing dan perkebunan kakao. Unsur-unsur ini ketika disandingkan dengan inovasi teknologi, akan memberikan nilai tambah kepada petani, dengan saling memberi dan menerima dari komoditas ini.

Secara sederhana, tanaman kakao sumber suplemen bagi ternak misalnya kulit buah menjadi makanan ternak, tanaman gamal sumber pakan ternak dan ternak menghasilkan pupuk bagi tanaman, urai penulis buku Rancang Bangun Agribisnis Sapi Potong ini.

Masih menurut Yusuf, barang kali banyak masalah yang ditemukan dan juga banyak masalah yang mungkin tidak bisa dipecahkan oleh petani koperator. Katakanlah komponen kegiatan berupa pemupukan, pemangkasan, sambung samping, sambung pucuk, rumah fermentasi, rumah petani, perkandangan ternak dan lainnya. Dengan membangun komunikasi, pasti kita dapat pecahkan bersama. Untuk itu, dalam pertemuan kita saat ini, kita hadirkan narasumber dan pakar sesuai bidangnya, untuk kita diskusikan masalah untuk bersama kita atasi.

Ditempat yang sama, penanggung jawab kegiatan Ir.Jantje G.Kindangen,MS. menjelaskan tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan teknologi system usahatani berbasis kakao klon unggul dengan ternak kambing yang terintegrasi di lahan kering.

Lanjut Kindangen, dengan kegiatan ini diharapkan akan terjadi peningkatkan pengetahuan dan keterampilan penyuluh dan petani.yang terlibat dalam kajian, serta sebagai wahana penjaringan umpan balik untuk penyempurnaan teknologi sehingga terwujud inovasi secara berkesinambungan dan identifikasi kebutuhan teknologi spesifik lokasi.

Camat sangkup Y.Bonde, mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan BPTP Balitbangtan Sulut di wilayah kerjanya. Untuk itu beliau berpesan pada petani dan kepala desa lokasi pelaksanaan untuk ikuti dengan baik Inovasi teknologi yang disampaikan, dan lakukan dalam kegiatan usahatani.

Ditempat yang sama Kadis Pertanian dan Peternakan Bolmut Ir. Sutrisno Goma, MSI mengapresiasi kegiatan BPTP Balitbangtan Sulut. “Tanpa menggunakan perhitungan ekonomi terasa sangat bermanfaat bila setelah sepanjang jalan tadi melihat kondisi pertanaman kakao hasil sambung samping dan sambung pucuk serta ternak kambing. Belum lagi komponen lain seperti perkandangan ternak kambing”. Karena itu menurut beliau, hal baik ini terus dikembangkan dan  tidak hanya di desa ini kalo bisa penyuluh setempat mendiseminasikan ke desa-desa lain, urainya.

Kegiatan temu lapang di design oleh Ir. Joula O.Sondak, MSi. dan Sudarti,SP. dalam pemaparan materi oleh tim pakar dan pengalaman petani pelaksana serta pengalaman petugas penyuluh swadaya.

Kegiatan yang diikuti oleh pelaku utama, pelaku antara dan petani, Gapoktan dan KTNA, dilanjutkan dengan materi tinjau lapangan dan diskusi lapangan. Yang langsung di pandu oleh Ahli Peneliti Utama (APU) Ir. Jantje G.Kindangen,MS. (*artur)

Koordinator UPSUS Pajale Sulut, Dr.Ir.Dedy bersama Dr.Ir.Abdul Wahid saat monitoring langsung lapang, terkait tambah tanam dan perkembangan lapangan serta aktivitas Detaser dengan Petani di Kotamobagu.

Harga Jagung Rp.3000/kg Belum Menutupi Biaya Produksi.

Kamis,18 Peb 2016,Kota Kotamobagu Timur--Pada lahan luas 25 ha,yang ditanami oleh kelompok tani  Ibantong di Desa Sinindian kecamatan KK Timur Panen Jagung bersama KT Ibantong Desa Sinindian. 

Panen Jagung ini, dihadiri oleh pihak TNI-AD, Tenaga Detaser serta parapetani terkait dalam kegiatan kelompok ini.

Jagung Varietas Bisi 2. yang ditanam, kerjasama antar petani, bekerja secara mapalus, berhasil panen di lahan luas 25 ha.

Menurut penuturan petani, permasalahan utama petani, terletak pada pemasaran. Karena kalau berproduksi, seperti terlihat, petani relatif tidak masalah, namun ketika produk sudah ada, siapa yang menampung dan membeli, imbuh petani.

Dalam kesempatan petani berharap, agar produksi yang telah dihasilkan ini,dapat ditampung oleh pihak pemerintah,melalui Bulog. Harapan juga dengan harga yang pantas untuk harga jagung.

Harga Jagung saat ini di tingkat petani Rp.3000/kg, dan hal ini menurut petani belum menutup biaya produksi.

Melaluikesempatan ini, petani berharap agar diperjuangkan untuk harga pembelian pada petani, diharapkan lebih dari harga Rp.3000/kg. Dengan demikian akan memotivasi petani dalam kegiatan usahatani Jagung.(*Artur)

Sumber: Dina

  • Pencanangan