7. Feb, 2019

Cara Orang Tataaran Membuat Tape Ubi Kayu (Singkong) : Di Dedikasihkan Untuk Ibu Kami Beatriks Tumil

Tondano, Oktober 2018 ---Empat puluh enam tahun silam, ketika beranjak SD, ibunda Beatriks T. Dalam keseharian sebagai penjual bahan pangan di pasar, mengajarkan cara makan ubi kayu (Singkong) yang direbus setengah matang dan disimpan menggunaakan daun pisang yang masih hijau dan diperam sekitar 4-5 hari.

Setahu penulis, ubi kayu (Singkong), untuk dimakan hanya direbus, di goreng saja, apa lagi dinikmati saat hujan rintik-rintik. Itulah pemahaman sempit anak usia 6-7 tahun. Ketika disajikan makanan yang diperam sekitar4-5 hari, penulis tidak sesegera memakan singkong rebus atau goreng. Apa lagi, setelah di jamah, tekstur lembek dan harus diambil dengan garpu, dan aroma sedikit beraroma asam seperti saguer ( nira aren), akhirnya masuk juga dalam mulut dan di makan.

Karena tekanan keterbatasan jenis penganan kala itu, maka mau tak mau (terpaksa) harus mencicipi dan makan jenis penganan baru ini, walau dalam ekspresi wow...

Penganan ini saat itu, belum terkenal. Dan tidak tahu asal muasal sampai sosok ibunda (Beatriks Tumilantow), tahu dan dapat membuat makanan ini dan menyajikan pada kami anak-anak yang saat itu baru kami bertiga.

Waktu terus dan terus bergerak, sosok ibunda karena disubsisi adanya bahan baku ubi yang ditanam ayahanda (Paul Turang) di kebun. Maka makanan yang tidak dikenal dan masih katagori aneh, menjadi santapan. Betapa tidak, karena hanya itu yang ada, juga sudah sedikit jenuh gorengan dan rebusan ubi kayu saat itu.

Makanan aneh yang dikaryakan ibundan, ternyata tidak hanya diberikan pada anak-anak dan keluarga, tapi juga telah di siapkan untuk menjadi barang jualan di pasar. Jualan ibunda menjadi ciri dan khas bagi sosok ibunda, bila menyebut makanan aneh itu.

satu pengalaman menarik yang terjadi, ketika salah seorang bapak, saat ditawari jenis makanan aneh itu, sang bapak menolak dengan mengatakan “ka’pu wu’ul, pe’we we’e= ubi busuk mau dikasih). Karena beliau belum rasa dan mengetahui jenis makanan itu. Apalagi bila dilihat kasat mata, seperti ubi yang mulai membusuk.

Waktu berlalu, dan setelah diketahui, ternyata jenis makanan itu adalah: Tape ubi. Tape ubi adalah jenis olahan dengan proses tertentu menghasilkan makanan terfermentasi dari singkong, makanan ini menjadi laris juga di pasar. Bahkan, sekolah dimana kami menuntut ilmu juga mulai kenal dan setiap istirahat, datang kerumah: “ada tape?” datang membeli jenis makanan ini.

Tulisan ini akan menguraikan cara pembuatan tape singkong diuraikan dari pengalaman ibunda. Dan didedikasihkan untuk hari ulang tahun ibunda ke-76 hari ini.

Apa itu Tape

Tapai singkong adalah tapai yang dibuat dari singkong yang difermentasi. Makanan tradisional ini populer di Jawa dan dikenal di seluruh tempat, mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Di Jawa Barat, tapai singkong dikenal sebagai peuyeum (bahasa Sunda) (Wikipedia, 2017) .

Karakteristik Tape

Tape adalah jenis makanan yang di proses dengan cara fermentasi. Dan memiliki rasa yang sangat khas yaitu manis, mengenyangkan dan dapat memabukkhan bila dikonsumsi banyak. Karena diolah dengan cara fermentasi maka penganan tape mengandung alkohol.

Tape khas Tataaran ala Beatriks, glondongan umbi yang di potong ukuran sekitar 8-10 cm dengan besaran sesuai besaran ubi.  Tape singkong dari Jawa Barat dibuat dari bahan singkong dalam bentuk utuhan. Sementara tape singkong dari Bondowoso, Jawa Timur dibuat dalam bentuk potongan dan ditempatkan dalam tempat khusus seperti anyaman bambu.

Alat dan Bahan

  1. Loyang
  2. Loto (Anyaman Bambu bentuk persegi)
  3. Kain Lap
  4. Dodika (tempat masak/Kompor
  5. Panci Kukus
  6. Penyaring
  7. Piring
  8. Pisau
  9. Sendok & Garpu

 

Bahan :

  1. Air secukupnya
  2. Daun pisang
  3. Ragi yang telah dihaluskan
  4. Singkong 2 kg

 

Cara Kerja :

  1. Siapkan semua bahan.
  2. Kupas singkong dan kikis bagian kulit arinya hingga kesat.
  3. Potong singkong yang telah dikupas sesuai keinginan (8-10 cm).
  4. Cuci hingga bersih singkong yang telah dipotong.
  5. Sementara menunggu singkong kering, masukkan air ke dalam panci sampai kira – kira terisi seperempat lalu panaskan hingga mendidih.
  6. Setelah air mendidih masukkan singkong ke dalam panci kukus, lalu kukus hingga singkong ¾ masak, kira – kira ketika ‘daging’ ubi/singkong sudah bisa ditusuk dengan garpu.
  7. Setelah matang, angkat singkong yang telah ¾ masak lalu taruh di suatu wadah, kemudian didinginkan
  8. Siapkan daun pisang dan wadah untuk mengubah singkong menjadi tape. Wadah itu terdiri dari loto yang bawahnya dilapisi dengan daun pisang.
  9. Setelah singkong benar – benar dingin, masukkan singkong ke dalam wadah

10. Taburi merata singkong dengan ragi yang telah dihaluskan menggunakan saringan

11. Singkong yang telah diberi ragi ini kemudian ditutup kembali dengan daun pisang.

12. Singkong ini harus benar – benar tertutup agar mendapatkan hasil yang maksimal.

13. Setelah singkong ditutupi dengan daun pisang, diamkan selama 2-5 hari

14. Bila sudah terasa lunak dan manis. Saat itulah singkong telah menjadi tape.

 

Mikroorganisme dalam ragi tape

Mikroorganisme yang ditemukan dalam ragi tape antara lain adalah: Rhizopus sp, Amylomyces rouxii, Saccharomycopsis fibuligera, Bacillus sp, dan Pediococcus. Ragi tape biasanya akan bekerja lebih efektif apabila dijemur sebelum digunakan. Biasanya prosedur ini selalu dilakukan oleh pembuat tape.

Penutup

Demikian sedikit uraian pengalaman pembuatan tape dari pengalaman ibunda, dan telah diadaptasikan dengan pengalaman para pengguna media online. Selamat hari ulang tahun mama, “kerja mama dan papa, adalah prestasi da sukses kami anak-anak”

Sumber bacaan: Wiki dan berbagai karya teman2 di media on line. Terima kasih teman-teman pengguna dunia maya. (*ByArtur).