6. Mei, 2019

Penyuluh Pertanian Harus Kuasai Inovasi Teknologi Hadapi Revolusi Industri Ke-Empat

Oleh: Arnold C.Turang,SP. 

Penulis adalah Penyuluh Pertanian di BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara

Dalam canda ria sarat makna, terlontar pendapat “nakal”: “Lima sampai sepuluh tahun kedepan, Penyuluh Pertanian (PP) tidak lagi diperlukan di lapangan”. Satu pendapat yang pernah dilontarkan penulis ketika diberikan kesempatan pada satu diskusi penyusunan programa penyuluhan pertanin tingkat provinsi di BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara, medio Desember 2018. forum ini dihadiri oleh para senior penyuluh pertanian, se Sulawesi Utara dan stakeholders terkait penyusunan Program Kerja Penyuluhan 2019.

Beragam tanggapan dalam “perspektifnya”, dapat dipotret dari ekspresi gesture peserta. Ada yang terlontar spontan atraktif “ya, brenti jo ta’re jadi penyuluh kalo bagitu (dialek Manado) yang artinya: berhenti saja jadi penyuluh, bila demikian”. Ada juga mencibir, sedikit emosional tanpa introspeksi “Asbun (Asal Bunyi) saja”. Ada juga sedikit emosional rasional “bisa saja kedepan akan demikian”. Itulah sedikit potret, dinamika para pelaku antara yaitu Penyuluh Pertanian(PP) ketika menerima sesuatu. Apa lagi menyandang senior dijamannya dan terus “mempertahankan” eranya, tanpa “update” masanya hadapi kekinian. 

Pendapat penulis, ketika melontarkan ide “nakal” tersebut, berangkat dari fenomena global dan zaman kekinian dan isyarat pengertian sesungguhnya penyuluh dan penyuluhan, sesuai aturannya (Permentan No.35/Permentan/OT.140/7/2009, dan regulasi lain terkait PP) serta pengalaman penulis merekam pendapat pelaku utama di lapangan. Demikian gema-gema lain terkait globalisasi melanda dunia, dengan upaya-upaya para inovatornya. Mereka gencar mencari dan mencari solusi inovasi untuk ketentraman mahluk penghuni bumi, agar dinamis efisien efektif berkelanjutan, merawat bumi kediaman bersama sebagai ciptaan Tuhan.

“Locomotif” globalisasi dengan revolusi industri ke-empat (Four Point Zero) saat ini, yang sedang bergelinding melintasi dunia, termasuk negeri yang kita pijak menjadi fokus perhatian. Fenomena ini bergema global dan menyita perhatian serta menuntut energy untuk bersanding bersamanya (gema revolusi ke-empat), agar kita tidak tertinggal dari locomotif perkembangan zaman.

Revolusi Industri 4.0, mulai bergema, sejak ada Hannover Fair tahun 2011. Saat itu, Jerman telah mendeklarasikannya. Sejak itu, perkembangan Industri keempat, sangat cepat dan pesat, termasuk di Indonesia. Saat ini pergerakan teknologi informasi begitu cepat. Menurut google consumer barometer (2017), dari basis yang rendah saja 29 persen pada tahun 2013, saat dilaporkan orang yang mengakses internet di Indonesia telah tumbuh siqnifikan menjadi 56 persen pada tahun 2017.

Jadi Indonesia saat ini, telah berada di tenah-tengah percepatan digital yang belum pernah terjadi sebelumnya. Orang-orang di Asia tenggara ini, “Raksasa” yang sedang log-on ke internet. Dan orang Indonesia yang terbesar tumbuh paling cepat diantara mereka.

Industri 4.0 (four point zero) adalah nama tren otomatis dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah di Jerman, yang mengutamakan komputerisasi pabrik. Melalui internet untuk segalanya, internet of things (IoT), sistim siber-fisik saling berkomunikasi dan bekerjasama satu sama lain dalam kontrol manusia secara bersama. Melalui komputasi awan (cloud) dan komputasi kognitif, hasilkan pabrik cerdas. Di dalam pabrik cerdas berstruktur monuler, sistem siber-fisik, mengawasi proses fisik. Ciptakan salinan dunia fisik secara virtual dan membuat keputusan terpusat dan akurat.

Kementerian Pertanian (Kemtan), melalui Balitbangtan telah mengurai konsep ini untuk diaplikasi hulu dan hilir. Konsep ideal pertanian pedesaan yang mulai dikembangkan Kemtan yaitu; precision farming and connectivity, pertanian pinter yang terkoneksi dengan perangkat pinter sensorik, mudah dikontrol dan efisien.

Sebagai contoh saat ini Kemtan dengan Smart Agriculture, didalamnya smart green house basis android atau rumah pertanian pinter, untuk hasilkan produk pertanian sehat sudah dimulai. Teknologi ini dirancang Balitbangtan, untuk melakukan kontrol dan pengawasan rumah pertanaman dengan remote sensorik dimanapun kita berada. Semua kebutuhan tanaman akan nutrisi, air dan teamprature terkontrol melalui sensor yang telah terkoneksi dan hanya dikelolah 2 orang saja.

Demikian dengan teknologi robotik untuk oprasional smart tractor. Teknologi mekanisasi yang teraplikasi basis android yang dapat di operasikan dari rumah. Kegiatan usahatani mulai dari pengolahan tanah, pengendalian hama dan panen, dengan menggunakan remote control. Demikian juga untuk pemanfaatan lahan. Bagaimana memanfaatkan citra satelit, untuk mendeteksi apa yang terkandung di dalam tanah. Output dari teknologi ini adalah rekomendasi. Apakah perlu pupuk urea, kalau perlu berapa?. Apakah perlu pupuk TSP, kalau perlu berapa. Apakah perlu pupuk KCl, kalau perlu berapa. Nah, itu dengan menggunakan deteksi, citra satelit.

Teknologi ke empat ini, yang dimulai Kemtan terintegrasi perangkat lunak, perangkat keras dan sumber daya manusianya, untuk hasilkan pertanian presisi di era industri ke empat. Tentunya dalam hal ini Kemtan membangun kerjasama internal, eksternal dengan institusi lain seperti perguruan tinggi, Lapan, BPPT, bahkan dengan negara yang sudah lebih dahulu, untuk pertukaran ilmu pengetahuan.

Industri 4.0 adalah peluang yang sangat besar yang harus dimanfaatkan. Teknologi era industri ke empat ini, membuat proses produksi akan semakin efisien, cepat, murah dan juga dalam skala masif besar. Untuk memanfaatkannya, tentunya dengan belajar dan belajar. Baik itu agen penderasnya, yaitu pelaku antara dan pelaku utamanya milenial dan old generatioan. Informasi-informasi ini tentunya butuh agen pedisseminasi, yaitu Penyuluh Pertanian.

Memang setiap perubahan, tentunya ada distraction  semacam gangguan. Termasuk Industri 4.0 orang menghawatirkan. Karena dengan masifnya industri 4.0 dikhawatirkan nanti angka penggangguran semakin meningkat. Termasuk yang di khawatirkan penyuluh seperti potret diawal tulisan ini. Tapi sebetulnya, tidak seperti itu. Jadi robot itu di ciptakan bukan untuk menghilangkan manusia (peran manusia). tetapi justru untuk membantu manusia dalam pekerjaan yang beresiko bagi manusia.

Demikian, disaat yang sama akan terbentuk situasi yang baru. Sehingga penggangguran itu bisa ditekan dengan sendirinya. Karena akan terbentuk lapangan kerja baru. Kemudian distraction kedua, petani-petani kita masih banyak yang tradisional, konvensional. Pelaku utama (Petani) dan Pelaku Antara (PP) “Tradisional” itu kan tidak terlalu melek dengan teknologi. Mereka juga belum terlalu mengerti tentang Information Communication Technology (ICT).

Kementerian Pertanian dengan program pemberdayaannya, terus mendorong, yang tradisional melek, sehingga meningkat produktivitasnya. Kedepan, pelaku Industri 4.0 ya anak muda milenial baik pelaku utama dan antara. Saat ini Kemtan dengan programnya menggembleng pelaku utama dan antara yang “mindset tradisional” untuk move on bersama generasi milenial. Mereka disiapkan untuk mengimplementasikan industri pertanian ke empat.

Persandingan generasi milenial dan old generasi, dalam satu komunikasi hadapi revolusi industri ke empat, diharapkan akan menjadi satu kekuatan bangsa dalam mengelola sumberdayanya yang kaya, untuk kesejahteraan anak bangsa. Persandingan generasi ini, akan terus berinovasi menggali kembangkan teknologi lain yang diinovasikan, agar lebih efisien. Terutama kedepanya revolusi industri ke empat lebih banyak diinovasikan hilirnya dan bisa ribuan kombinasi teknologi industri ke empat yang dapat dimodivikasi petani-petani milenial.

Tentunya kita harapkan, dengan berbagai kemajuan teknologi, bisa membuat Indonesia tidak hanya berswasembada. Nantinya Indonesia menjadi negara eksportir dari komoditas pertanian berkualitas. (*art) 

Tulisan ini sudah terbit di Media Cetak Harian Komentar Edisi: Selasa 23-25 April 2019