6. Mei, 2019

Bagaimana Kesiapan Sektor Pertanian Menyongsong Era Revolusi Industri 4.0

Oleh: Arnold C. Turang dan Yusuf

Penyuluh Pertanian dan Peneliti di BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara

Populasi global dunia terus bertumbuh mendorong permintaan makan tinggi. Perjuangan mengimbangi ketika produksi turun, harus disikapi dengan inovasi teknologi yang smart. Sajian dalam artikel ini,akan memaparkan rekaman dialog Indonesia Hari Ini TV RI Nasional bersama Prof. Dedy Nursyamsi, Staf Ahli Menteri Pertanian (SAMP) di kemas dalam Versi Narasi.

Interviewer : Oki Satrial (OS); Interviewed : Prof. Dr.Ir. Dedy Nursyamsi, MAgr.

Oppening: Selamat siang saudara, kembali berjumpa di program dialog Indonesia hari ini, bersama saya Okki Satrial. Saudara revolusi Industri 4.0, membutuhkan kesiapan dari seluruh aspek dan juga semua sektor, termasuk juga sektor pertanian. Lalu, bagaimana dengan sektor pertanian di Indonesia, apakah kita sudah siap memasukki Industri 4.0, atau four point o ini. Kita akan membahasnya bersama dengan narasumber yang telah hadir di studio 4 TVRI, beliau adalah Profesor Dedy Nursyamsi, Staf Ahli Menteri (SAM) Bidang Infra Struktur Pertanian di Kementerian Pertanian.

OS: Pak Dedy, Selamat siang.../selamat sore..(DN) Selamat siang/ Sore...terima kasih...OS: terima kasih telah hadir di Studio 4 TVRI

OS: Baik Pak Dedy...,berbicara menganai revolusi Industri 4.0, ini...sebuah ke niscayaan yang harus kita hadapi begitu, termasuk juga di sektor pertanian...Bagaimana sektor pertanian, mau tidak mau kemudian harus masuk kemudian harus masuk ke erah ini. Bagaimana sektor pertanian kemudian menyikapi hal ini, begitu pak....?

Dedi Nursyamsi (DN):

DN), Jadi begini, (OS), ...Sejak akhir abad XX, kita memasukki awal abad ke XXI,...itu yang namanya pertanian, itu memang fokus di hasil-hasil produk: bio Sains, produk mekanisasi pertanian dan satu lagi produk Information Comunication Tecknology (ICT). Nah, itu meningkatkan produktivitas dan produksi pertanian, itu luar biasa.

Diawal abad ke XXI ini, sejak ada hannover fair tahun 2011. Jadi Jerman sudah mendeklarasikan Industri 4.0. Sejak itu, perkembangan Industri 4.0, berkembang sangat pesat, termasuk di Indonesia.  Jadi, sebetulnya sektor pertanian kita di Indonesia, juga sudah mengimplementasikan Industri 4.0, apa yang kita sebut “smart agriculture”. Jadi, pertanian cerdas. Di dalam smart agriculture itu, ada yang namanya smart green house, artinya rumah kaca yang cerdas. Jadi kita tahu semua bahwa produksi tanaman, itu ditentukan oleh fotosintesis.

OS:, ok, dari proses tanaman itu sendiri mendapatkan cahaya mat.., dan macam-macam.

DN-betul, nah fotosintesis itu membutuhkan lingkungan yang favoreble, membutuhkan suhu yang optimal, kelembaban yang optimal, memerlukan air yang optimal, dsb. Nah, didalam smart green house ini, semuanya diatur oleh sensor, yang dihubungkan ke internet. Dengan menggunakan big data, sensor itu bisa bicara. Pada saat suhu melampaui suhu optimum, si sensor berkata: ini sudah lewat. Kemudian blower bekerja, dan suhu turun, sehingga fotosintesis akan berlangsung dengan optimal. Sehingga semua akan menghasilkan produksi yang maksimal.

Ini semua diatur oleh internet. Ini semua kita menggunakan artivicial intelegen, menggunakan kecerdasan buatan dan sebagainya. Ini semua kita sudah masuk disitu. Nah sudah terbukti bahwa, Industri 4.0 ini, itu betul-betul efisien, betul-betul cepat, betul-betul...dalam ruang lingkup yang sangat luas. Ia dapat menyediakan bahan pangan dalam jumlah sangat banyak. Ini sangat efisien, nah karena efisiensi ini, mau tidak mau, kita harus efisien, yang tidak efisien,kala dan ketinggalan, termasuk sektor pertanian.

OS. Karena efisiensi mempengaruhi hasil pertanian Betul, Efisiensi berpengaruh terhadap produktivitas, daya saing, berpengaruh terhadap ekspor. Salah satu indikasi keberhasilan pembangunan kita kan adalah apakah kita bisa menjual kenegara lain, melalui ekspor. Jadi Intinya,seperti itu.

OS: menarik terkait disebutkan ada Smart Agriculture: artinya penerapan yang memang bisa dikatakan masa depan pertanian di Indonesia. Tapi ini sudah diterapkan, atau masih merupakan model, begitu pak ?

DN. Sudah. Jadi untuk smart green house, itu terutama untuk komoditas hortikultura. Komoditas hortikultura, itu kan, dia mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Sehingga nilai jualnya tinggi, tentunya keuntungan juga banyak. Ada lagi, yang disebut Smart Irigation, itu terutama di daerah-daerah yang kering, untuk komoditas tebu. Jadi menggunakan irigasi dibawah permukaan tanah. Di situ juga bekerja sensor-sensor. Ada sensor yang menetapkan, wah: ini kadar airnya sudah menuju kering. Begitu kadar airnya kering, yang kita sebutkan titik layu, itu sisensor berkata ini kekeringan. Kemudian dia akan printahkan keran, dan terbuka. Sampai dengan kebasahan tertentu, dan kelebaban tertentu, bagitu misalnya tanahnya sudah cukup kelembabanya, keran akan tertutup. Itu berdasarkan sensor, yang nyuruh.

OS: jadi tadi ada smart agriculture, smart green house, smart irigation. DN menyelah: bahkan kita juga sudah menciptakan apa namanya: automatik traktor roda empat SO menyela, untuk: lahan pertanian DN betul. ya, untuk mengolah tanah disawah. Bisa menggunakan traktor yang bisa dikendalikan dari rumah. Dengan menggunakan internet dan lain sebagainya.

OS. Baik, sudah terbayang bagaimana masa depan pertanian masa depan kita, dengan menjabarkan hal itu. Saat ini, dimana saja sudah diterapkan teknologi itu ?.

Betul, memang ini masih terbatas, belum masif. Kita memang masih genjot sekarang produktivitas...produksi itu dengan: ya, boleh kita katakan industri 3.0 melalui penggunaan alsin, melalui penggunaan culture jaringan,

OS (menyela), dengan cara konvensional. DN: boleh dikatakan dengan cara-cara konvensional. Namun demikian, teknologi-teknologi tersebut, dipadukan: dengan penggunaan internet, dengan penggunaan artificial intellegence, dengan penggunaan big data dan sebagainya, sehingga lahirlah 4.0. Menarik tadi, Smart Agriculture. Pastinya ini, bukan produk yang semata-mata dihasilkan oleh Kementerian Pertanian, butuh kerjasama juga dengan pihak-pihak lain. Siapa saja yang selama ini sudah kerjasama...pak..?

DN: jadi Kementerian Pertanian sudah lama membagun kerjasama dengan BPPT. Itu yang menciptakan sensor-sensor itu BPPT. Kemudian juga dengan perguruan tinggi. Kemudian juga dengan Lapan. Kita juga sudah kembangkan, bagaimana memanfaatkan citra satelit,ya untuk mendeteksi apa yang terkandung didalam tanah. Nanti akan keluar rekomendasi, apakah perlu pupuk urea, kalau perlu berapa?. Apakah perlu pupuk TSP, kalau perlu berapa. Apakah perlu pupuk KCl, kalau perlu berapa. Nah itu dengan menggunakan deteksi, citra satelit. Nah ini kita kerjasama dengan LAPAN. Nah Lapan itu bisa menterjemahkan, dari citra satelit, memoto permukaan tanah, mefoto lahan, dari situ bisa diterjemahkan, oh ya: kadar N sekian, sehingga peru pupuk N sekian untuk tanaman padi. Untuk Jagung sekian,dst.

Nah, artificial intellegen-nya, big datanya itu dari kita. Kita sudah punya berbagai penelitian analisis tanah di seluruh Indonesia. Kita juga sudah punya berbagai penelitian, bagaimana memupuk kalau tanahnya sudah begini. Bagaimana memupuk kalau tanahnya seperti itu, dsb.

OS: ok dan penelitian ini sudah komperhensip belum untuk seluruh wilayah, atau memang masih terbatas pada beberapa daerah saja, seperti itu...

DN: kalau untuk penelitian tanah, penelitian pemupukan lahan dan sebagainya, itu seluruh wilayah di tanah air, sudah kita petakan. Jadi data-datanya ada di kementerian pertanian. Dan semua stakeholders boleh gunakan data-data itu, tentunya untuk pembangunan pertanian kedepan.

OS: Ini tentunya kita harapkan bisa dilakukan secara masif atau masalah, karena lahan kita besar sekali di Indonesia. Dan hampir dari separoh dari masyarakat kita masih bergantung hidupnya dari sektor pertanian. apa kira-kira yang perlu di lakukan untuk bisa menerapkan hal ini, secara lebih luas lagi ?

DN: untuk implementasi, jadi yang perlu kita lihat adalah pelaku, pelaku pertanian itu, siapa. Ya petani. Jadi didalam pelaku petani kita itu rancenya lebar. Dari mulai dari petani tradisional, petani konfensional, petani moderen dan petani milenial, itu ada. Terkait dengan Industri 4.0 ini petani yang milenial dan petani yang moderen, ini mempunyai khans yang sang sangat besar. Kenapa ?, karena petani milenial, itu melek teknologi. Dia akan dengan mudah mengadopsi teknologi. Kemudian dia juga melek ICT.

Dia gampang sekali menggunakan Information Communication Technology . Menggunakan internet, menganalis data. Karena memang mereka hidup seperti itu. Selain itu, mereka juga punya ide-ide yang luar biasa. Kemudian semangatnya juga tinggi, energinya juga tinggi. Jadi saya yakin dengan kita mengembleng, kita membimbing petani milenial, kedepan ya, implementasi Industri 4.0 di sektor pertanian itu akan berjalan dengan baik. Bahkan si petani-petani milenial itu, nanti akan menciptakan teknologi-teknologi baru di era 4.0 ini.

OS: jadi bisa dikatakan juga, image sekarang gambaran tentang petani itu: adalah, orang desa, yang kemudian dilakukan hampir sebagian orang yang sudah berumur, itu dulu,anak muda kita jarang mau jadi petani, tapi sekarang bagaimana menjadi petani yang milenial, yang memanfaatkan ICT tadi, sehingga mindset masyarakat terkait petani ini, berubah.

DN: jadi di dalam program kementerian pertanian ada yang namanya: bagaimana kita menciptakan petani milenial, 1 juta orang per tahun yang berorietnasi ekspor. Jadi kita gembleng, melalui: ada di pertanian namanya Politeknik Pembangunan Pertanian (Pelbangtan). Itu dalam dua tiga tahun terakhir, itu minat untuk menjadi mahasiswa Pelbangtan, itu luar biasa. Ada peningkatan 11 kali lipat. Itu kan artinya apa ?, minat anak-anak muda ke pertanian itu meningkat, kemudian kita lihat juga: mahasiswa pertanian di seluruh tanah air, itu juga meningkat sampai dengan 60%. Dalam dua tiga tahun terakhir. artinya itu apa...? mereka itu sangat minat. Mereka itulah yang akan membangun pertanian kita 5-10 tahun yang akan datang.

OS: kita mungkin, pasti ingin tahu juga. Apa sebetulnya kendala yang dihadapi dalam penerapan teknologi pertanian, adakah petani-petani kita sudah bisa menerima hal ini, terutama petani yang masih tinggal di daerah perdesaan begitu pak. kemudian apakah juga ada juga semacam target penerapan, seberapa lama jangka waktunya.


 Jedah.....................................IKUTI DI VERSI VIDEO


OS: Anda kembali bergabung di dialog Indonesia hari ini “Bagaimana Kesiapan Sektor Pertanian Menyongsong Era Revolusi Industri 4.0” itulah yang kita perbincangkan siang ini...

OS: pak Dedy menarik tadi kita sempat membahas smart agriculture dengan berbagai turunannya. Ada smart irigation dan lain-lain. Lebih jauh tadi juga kita membahas bagaimana anak-anak muda bisa mengambil peran dalam hal ini- Saat ini mungkin beberapa kendala dihadapi terutama dari segi SDM kita, terutama di perdesaan berapa petani yang masih menggunakan pertanian dengan cara konvensional kadang kala sulit menerima sesuatu yang baru. Kendala-kendala yang dihadapi untuk bisa menerapkan teknologi ini, seperti apa ?

DN: ya, jadi setiap perubahan ada distraction, ada semacam gangguan, termasuk Industri 4.0 orang menghawatirkan, dengan masifnya Industri 4.0 nanti angka penggangguran semakin meningkat,

OS menyela: karena banyak robot dan sebagainya.

DN:Tapi sebetulnya, tidak seperti itu. Jadi robot itu di ciptakan bukan untuk menghilangkan manusia (peran manusia). tetapi justru untuk membantu manusia. Kemudian nanti disaat yang sama akan terbentuk situasi yang baru. Sehingga nantinya penggangguran itu bisa ditekan dengan sendirinya. Karena akan terbentuk lapangan kerja baru. Nah, jadi sebetulnya tidak terlalu khawatir kita. Kemudian tadi distraction kedua, petani-petani kita masih banyak yang tradisional, konvensional. Tradisional itu kan tidak terlalu melek dengan teknologi. Mereka juga belum terlalu mengerti tentang ICT. Namun demikian, mereka tetap kita dorong, sehingga meningkat produktivitasnya. Kedepan, siapa pelaku Industri 4.0 ya anak muda milenial. Nah oleh karena itu sekarang kita gembleng itu. Petani milenial itu, dia siap untuk mengimplementasikan industri pertanian 4.0

Jadi Kementerian Pertanian itu, ada program Pokasi dan Magang. Petani-petani Milenial itu di sekolahkan dimagangkan di negara-negara yang sudah maju pertaniannya OS menyela: di Jepang. DN: ya, betul. Di Jepang antara lain, di Taiwan. Mereka itu belajar bukan teknologi budidaya saja, tetapi juga mereka belajar bagai mana teknologi implementasi Industri 4.0 ini. Bahkan nanti diharapkan mereka pulang, mereka bisa mengimplementasikan ilmu yang didapat dari Taiwan dari Jepang, di Indonesia. Disaat yang sama dia juga, justru dia menciptakan teknologi Industri 4.0 yang baru di sektor pertanian.

SO: Secara umum, apa sih yang bisa kita pelajari dari negara-negara yang sektor pertaniannya sudah maju: seperti Jepang itu ?

DN: yang pertama adalah teknologinya. Jadi yang saya ceritakan tadi : Smart Agriculture, Green House Agriculture, Smart Irigation ada juga automatic tractor, otonomos staktor, itu di negara-negara seperti: Jepang taiwan Jerman, itu sudah biasa, sudah lama mungkin sudah masif. Di kita juga sudah mulai di awal abad ke XXI ini. Kemudian selanjutnya, untuk memasuki Industri 4.0, pemanfaatan internet of things (IoT),  pemanfaatan Big Data, pemanfaatan artificial intelligence (AI), dan itu banyak di kita. Contoh Big data untuk data-data lahan, itu di Kementerian Pertanian lengkap di seluruh Indonesia. Artinya, yang namanya pertanian, pasti lahan. Kita tahu dulu lahanya seperti apa?. Kalau kita sudah tahu lahanya seperti apa, managemenya gampang. Informasi itu, ada. Lahanya seperti apa ada, dan harus diapakan, itu adalah teknologi hasil-hasil riset kita.  Itu sudah ada, tinggal kita kemas dengan bantuan internet of things IoT, dengan bantuan AI, muncul 4.0. begitu pak OS.

OS: ya, dengan kondisi geografi kita yang saat ini luas sekali, dari Sabang sampai Serauke: lahan pertanian juga luas sekali, Kementerian Pertanian, punya target kah dalam penerapan ini, mungkin jangka waktunya berapa lama lagi kita akan menyongsong hal tersebut atau seperti apa...?

DN: Saya yakin, di Kabinet berikutnya, jadi mulai akhir tahun ini,saya kira kedepan itu Pemerintah saya yakin akan lebih fokus bagaimana implementasi Industri 4.0 . Apalagi, bapk Presiden. Pak Jokowi sudah men- declare, bahwa kedepan kita akan implementasikan Industri 4.0  di seluruh sektor, termasuk di pertanian.

Jadi salah satu syarat implementasi Industri 4.0 itu adalah pertama dukungan dari pemerintah, dan itu sudah ada. Kemudian juga dukungan dari Dewan, legislatif dan itu juga sudah ada. Dan yang tidak kala penting adalah dukungan dari masyarakat dan seluruh stakeholders. Nah, masyarakat ini, sangat beragam. Tadi, petani saja sudah saya katakan, mulai dari petani tradisional, petani moderen, petani konfensional, sampai dengan petani milenial itu ada. Nah oleh karena itu, kita perlu pilih-pilih harus bergerak. Kementerian Pertanian, mengarahkan Industri 4.0 itu ke petani milenial, kenapa? Karena mereka nanti yang akan melaksanakan Industri 4.0 kedepan.

OS: Dukungan Pemerintah, Dukungan Anggota Dewan masyarakat juga butuh mendukung. Bagaimana dukungan regulasi, artinya, penerapan teknologi ini tentunya butuh payung hukum membuat petani merasa lebih aman menjalaninya, seperti apa pak ?

DN: nah, yang jelas, dukungan Legislasi, sekarang sudah luar biasa. Tentunya nanti outpunya dalam bentuk regulasi itu. Aturan-aturannya, tentunya dengan eksekituf ya, mulai dari Presiden, Meteri, kebawah sampai pemerintah daerah itu juga sangat respek terhadap ini, tentunya salah satunya outpunya adalah regulasi. Mulai regulasi tingkat pusat sampai tingkat perda di bawah.

OS: baik, teknologi yang digunakan tadi dalam pertanian, apakah sudah menyeluruh begitu pak sampai dengan produksi hingga dengan distribusi, outputnya seperti itu pak..?

DN: jadi, untuk Industri 4.0 justru lebih banyak di hilir. Terutama di distribusi. Bagaimana mendistribusikan komoditas pertanian, misalnya beras. Kalau dulu, orang perlu beras, tanya-tanya paling untung lewat telphon kan.  Nah sekarang menggunakan get-get, disitu ada big data, yang menjelaskan bahwa: produksi di kabupaten ini sekian ton. di kabupaten ini sekian ton, bulan anu, mei juni dst....berdasarkan itu, kita bisa setel. Kalau kita perlu beras, misalnya bulan Mei sekian, oh ya dapatnya dari sini...tinggal kontak dan kirim. Denganmenggunakan Industri 4.0 semua akan lebih cepat akan lebih muda dan akan lebih efisien. Jadi Industri 4.0 betul-betul menembus dimensi ruang dan waktu. Yang saat ini dimensi ruang jadi pembatas karena sangat jauh, yang tadi bapak OS bilang Indonesia ini sangat luas dan luas sekali... dan waktu kita saja ada 3 waktu kan. Nah, dengan menggunakan Industri 4.0 getjet dan sebagainya, dimensi ruang dan waktu itu akan bisa di tembus.tidak ada batasan lagi, begitu.

OS: Kesiapan petani, tentu dari Kemtan dekat sekali dengan petani mengenal kondisi riil dilapangan. Apa kira-kira aspirasi disampaikan oleh para petani mengenai keniscayaan tadi Revolusi Industri 4.0 kemajuan teknologi apa yang mereka sampaikan pada kementerian.?

DN: tentunya, mereka sangat berharap agar pemerintah itu dalam hal ini kemtan mensupport terutama terkait dengan infra struktur. Jadi infrastruktur irigasi, jalan, dsb, kenapa, karena dengan infrastruktur akan semakin mudah dan semakin efisien. Jadi ada dua kunci sebetulnya, untuk meningkatkan produktivitas: infrastruktur dan inovasi teknologi, termasuk Industri 4.0 itukan inovasi teknologi. Jadi dua-duanya ini penting terutama dari pemerintah infrastruktur. Dan saya kira, kita semua tahu ya, betapa kita ini ya, bapak Presiden kita ini membangun infra struktur yang luar biasa, termasuk infra struktur pertanian, berapa bendungan yang sudah dibangun, berapa jaringan irigasi primer sekunder yang dibangun, kemudian pintu-pintu ari yang sudah diperbaiki dan sebagainya. Tentu saja itu, mengungkit produktivitas yang luar biasa. Dan itu sekarang sudah berlangsung dan tetap akan berlangsung. Terutama dalam pemeliharaan.

Nah kemudian, juga yang tidak kala penting adalah: teknologi. Tentunya teknologi ini, berbagai lembaga riset di Indonesia, ada dari Badan Litbang Pertanian, dari perguruan tinggi, dari BPPTP, dari Lapan, dasb. Dia nantinya akan menghasilkan produk-produk teknologi 4.0 yang bisa memudahkan mengefisienkan proses produksi. Nah ini tentunya, saja teman-teman stakeholder, dalam hal ini petani sangat mengharapkan informasi itu. Nah, lewat penyuluhan, lewat diseminasi, lewat dem farm, itu semuanya diberikan pada petani sedemikian rupa, sehingga petani itu melihat kemudian dia juga mulai belajar, merasahkan kemudian mengimplementasikan.

Contoh: produk bio-sains itu ada varietas yang berpotensi hasil tinggi misalnya untuk padi Ciherang tetap tinggi, ada sekarang Inpari sampai 42. Inpari-42 itu produktivitas tinggi, di Indramayu, itu bisa mencapai 14 ton per ha, itu kan luar biasa. Padahal rata-rata Indonesia baru 5,2 ton/ ha. dengan varietas itu bisa menghasilkan sampai 14 ton/ha, artinya dua kali lipat lebih. Nah informasi-informasi seperti itu, tentu saja petani sangat memerlukan. Selanjutnya kan tentu perlu logistik, kalau misalnya petani “dimana benihnya” kita harus siap. Nanti tentunya benih-benihnya ditaruh di sentra-sentra produksi dan kita latih petani-petani menjadi penangkar. Artinya apa? Bikin benih sendiri dia. Nanti benih sendiri tentunya untuk keperluan dia sendiri dengan keperluan teman-temannya. Nah misalnya itu, peran pemerintah di situ sangat luar biasa.

OS: di era revolusi 4.0 bagaimana sektor pertanian melihat ini sebagai sebuah harapan, dan dari bapak sendiri bagai mana pesan-pesannya, pada petani-petani kita juga yang sedang menyaksikan

DN: Jadi begini, Industri 4.0 ini, adalah peluang yang sangat besar yang harus kita manfaatkan, kenapa karena Industri 4.0 itu membuat proses produksi itu akan semakin efisien, semakin cepat, semakin murah dan juga dalam sekala yang masif besar. Ini peluang yang besar. Oleh karena itu kita harus manfaatkan ini. Bagaimana cara memanfaatkan ini, terutama belajar. Terutama petani-petani milenial. Dia harus tahu apa itu teknologi Industri 4.0 itu, seperti apa. Jadi dia bisa mengimplementasikannya di saat yang sama, dia juga harus menggali teknologi-teknologi lain agar lebih efisien. Terutama teknologi yang di hilir. Di hilir itu luarbiasa nanti kombinasinya. Bisa ribuan jutaan kombinasi teknologi Industri 4.0 yang bisa diciptakan generasi petani Milenial.

OS: tentu kita harapkan dengan berbagai kemajuan teknologi, bisa membuat Indonesia tidak hanya berswasembada, nantinya menjadi eksportir dari komoditas pertanian.

Terima Kasih : Prof. Dedy Nursyamsi, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infra Struktur Pertanian di Kementerian Pertanian . kita harapkan edukasi ini melalui gapoktan-gapoktan yang sudah tersebar di berbagai desa terima kasih kehadirannya.----demikian pemirsa perbincangan kita di Dialog Indonesia Hari Ini (time 14:30) (*Artur)

Sumber: Di Narasikan Via https://youtu.be/YVl9kbZgOdw?t=20