14. Agt, 2019

Bangun Peternak Milenial Di Era Revolusi Industri 4.0

Dunia di ujung jari-jari. Tinggal di tarikan untuk melihat dunia. Istilah ini tidaklah berlebihan, sebab inspirasi sering kali datang dari aktifitas keseharian. Contohnya, kajian penelitian yang di lakukan oleh salah satu staf  Balitbangtan BPTP Sulut, Hasrianti Silondae ini.

Kepada warga yang berkunjung ke kandang ayam kampungnya, dia mengisahkan awal mula mengapa ia begitu tertarik meneliti ayam kampung tersebut.  Sebagai seorang ASN juga ibu rumah tangga, diakuinya bahwa inspirasi untuk meneliti sering muncul ketika ia sedang di dapur.

Tatkala mengiris wortel dan beberapa wortel harus di sisihkan karena mulai membusuk, ia tiba-tiba berpikir; "mengapa itu tidak digunakan saja sebagai salah satu suplemen untuk ayam kampung".

Matanya berbinar, dan sejurus kemudian ia berselancar ke dunia maya. Mengulik kisah-kisah peternak unggas, membaca literatur ilmiah terkait kajian-kajian yang sudah dilakukan dalam hal pemanfaatan limbah wortel yang potensial sebagai pakan suplemen.

Dari hasil bacaan dan pengamatannya di rumah, terhadap ayam-ayam peliharaannya yang dibudidayakan secara tradisional, ia berkesimpulan bahwa pada umumnya dengan sistem pemeliharaan tradisional atau ekstensif menghasilkan ayam kampung dengan bobot 1 kilogram pada umur pemeliharaan 6 bulan.

Dengan pemikiran bahwa wortel yang mengandung karoten sebagai provitamin A yang berperan penting dalam proses pertumbuhan, kesehatan penglihatan, serta berperan penting untuk sistem kekebalan tubuh tentu saja sangat menguntungkan dan mudah dalam pembuatannya serta harganya yang terjangkau.

Menurutnya, ayam yang diberi perlakuan jus wortel bisa mencapai bobot 1 kilogram pada umur pemeliharaan 3 bulan disamping pemberian pakan yang teratur dan bernutrisi.

Diketahui bahwa ayam kampung memiliki daya tahan tubuh yang baik terhadap penyakit dan stress. Upaya pencapaian produktivitas maksimal ayam kampung juga terus dilakukan melalui perbaikan kuantitas dan kualitas pakan yang diberikan dengan sistem pemeliharaan intensif.

Pemberian jus wortel sebagai imbuhan dalam air minum diharapkan dapat membantu peternak untuk mendapat hasil yang lebih optimal dan menekan biaya obat-obatan. “Alhamdulillah, selama penelitian ayam saya ini yang mati hanya 2 ekor itupun matinya di minggu ke-2 pemeliharaan akibat stres perjalanan.

” Mendapat motivasi ini, warga yang bersilaturahim tersebut tampak antusias, karena selama ini yang mereka tahu, momok paling menakutkan dalam usaha peternakan unggas adalah tingkat mortalitas atau kematian yang tinggi sehingga menimbulkan kerugian.

“Bapak, Ibu, saya juga sering berbicara dengan ayam ketika pertama masuk kandang. Ketika saya sedang meracik ransumnya saya putar musik relaksasi dan mp3 Al-Qur’an. Jadi, saya enjoy, ayamnya juga ikut senang.”

Kisah unik itu tentu saja membuat mereka semakin tertarik untuk memelihara ayam. “Silahkan, kalau ibu-ibu senang berternak itu lebih bagus lagi, karena bisa menambah penghasilan keluarga dan sarana hiburan,” Imbuh sang peneliti.

Memelihara ayam ternyata terbukti menjadi sarana edukasi dan piknik bagi anak-anak. Menjelang akhir kajian, anak-anak dari sekolah alam berkesempatan magang setengah hari di kandang, berdiskusi, memberi makan dan memegang ayam yang menurut mereka sangatlah lucu dan menggemaskan.

Satu pesan untuk anak-anak ini: jangan ragu untuk menekuni sebuah pekerjaan yang bisa bermanfaat bagi orang banyak, salah satunya dengan berternak yang dalam pikiran sebagian orang bahwa berbaur dengan ayam di kandang identik dengan bau dan kotor.

Tentu saja, dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang boleh jadi suatu saat akan ditemukan parfum wangi yang khusus untuk kandang sehingga bisa membuat peternak betah dalam memelihara dan merawat ayamnya. (*Hs)